Jumat, 03 April 2009

Oret-oret

Penantian

(Untuk Sebuah Nama)


Seraut wajah berparas cinta

Di pelupuk malam

Berjibaku dengan rindu

Tanpa kesah menunggu


Selaksa tanya selimuti dada

Di manakah dia?

Merasakah dia?

Tanpa tanda meniada


Waktu deras melaju

Masih saja dia menunggu

Sang kasih tak jua berlabuh

Sungguh…

Penantian ini hanya untuk luka

Workshop Cerpen


Bertemu Keluarga Cerpen di SMPN 2 Jombang

Oleh: Jabbar Abdullah

(Pegiat Komunitas Lembah Pring Biro Mojokerto)

Apa itu cerpen? Apa yang membuat seseorang menulis cerpen? Siapa yang membutuhkan cerpen?

Paling tidak untuk saat itu (Selasa, 3/2), tiga pertanyaan di atas telah menyelimuti selaput pikiran para Guru MGMP Bahasa Indonesia se-Kabupaten Jombang ketika mengikuti workshop kepenulisan cerpen di ruang perpustakaan SMPN 2 Jombang yang di moderatori MS Nugroho, guru setempat.

Fahrudin Nasrullah, selaku nara sumber workshop kepenulisan cerpen mengawali acara sesi pertama dengan menyampaikan curriculum vitae-nya secara singkat, khususnya tentang proses kreatifnya di dunia kecerpenan. “Proses kreatif tidak boleh berhenti”, tegas Fahrudin yang juga founding father komunitas sastra Lembah Pring Jombang.

Setelah bertutur ngalor-ngidul soal proses kreatif, Fahrudin meneruskan pembahasannya ke wilayah sastra. Tentang materi sastra ini, ada pertanyaan sederhana dari Fahrudin yang tertuju kepada seluruh Guru MGMP Bahasa Indonesia yang hadir saat itu, yakni apakah selama kegiatan belajar mengajar (KBM) Bahasa Indonesia di sekolah, sastra hanya dijadikan “tempelan” saja?

Mendengar pertanyaan tersebut, semua guru hanya bergeming. Berangkat dari pertanyaan itulah kemudian Fahrudin mengurai dan membumikan kesusteraan di benak para Guru MGMP Bahasa Indonesia dengan menyodorkan beberapa pengalaman dari para sastrawan dan penulis-penulis yang serius menerjuni dunia kepenulisan umumnya dan sastra (cerpen) khususnya. Cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis, “Kambing” karya Joni Ariadinata, Atau “Anjing-anjing Menyerbu Kuburan” karya Kuntowijoyo adalah sebuah perlawanan terhadap kebekuan realitas yang selama ini hanya melayap-layap dalam ingatan dan kesadaran semu kita. “Pada dasarnya, semua bentuk tulisan (Cerpen, Puisi, Novel dan Esai) adalah bentuk sebuah “perlawanan”, pungkas Fahrudin, yang hobi berburu buku-buku dan naskah-naskah kuno (lawas) ini.

Menginjak sesi kedua diadakan dialog interaktif. Ada dua pertanyaan menarik dalam sesi dialog interaktif ini yang selama ini menjadi kegelisahan sebagian besar guru Bahasa Indonesia. Pertanyaan pertama dilontarkan oleh Ibu Puspita, guru Bahasa Indonesia SMPN 3 Mojowarno, “Menurut anda, cerpen yang baik itu bagaimana?”

Pertanyaan selanjutnya datang dari Ibu Tutik, “Bagaimana cara menumbuh-kembangkan minat menulis kepada siswa?”

Menjawab pertanyaan pertama, Fahrudin menjabarkan, hal terpokok dari cerpen adalah “bagaimana menghadirkan cerita” atau “cara bercerita”. Cerpen ibarat sebuah rumah kecil di mana setiap sisi arsitektural dan bahan-bahannya sangatlah diperlukan dan diperhatikan untuk menopang berdirinya sebuah rumah tersebut. “Umumnya, cerpen yang baik terdiri dari plot (alur), konflik, membangun karakter tokoh yang kuat dan tidak samar, dan mendetailkan seting (latar). Pendek ungkap, cerpen adalah sebuah jalinan cerita yang diikhtiarkan bahwa sebuah cerpen musti dapat “melekat kuat dalam ingatan pembaca””, urai Fahrudin singkat.

Untuk pertanyaan dari Bu Tutik, Fahrudin memberikan empat ancangan umum untuk menumbuhkan spirit menulis. Pertama, Sodorkan 1 cerpen kepada siswa untuk dibaca bersama. Pilih yang ringan. Pilih 1 siswa yang berminat membacanya. Lalu lontarkan tanya-jawab semisal siapa pengarangnya, judul cerpennya, dan bagaimana jalan ceritanya. Kedua, secara kontinyu poin di atas dipraktekkan dalam 3 kali pertemuan sembari disarankan kepada siswa untuk membuat 1 cerpen: cukup 2 kalimat atau 2 paragraf saja (atau lebih jika mereka mampu). Ketiga, setiap siswa, setelah menyerahkan hasil cerpennya, diminta bagi yang berminat untuk membacakan karya cerpennya di depan kelas. Keempat, disarankan pada 47 guru bahasa Indonesia dalam MGMP se-Jombang ini untuk mengarang 1 cerpen lalu dikumpulkan, dicetak, dan dibagi ke seluruh siswa-siswanya. Tujuannya agar para siswa bisa meneladani dan tersemangati untuk menulis cerpen.

Pada pengujung acara, cerpenis yang tulisannya sudah banyak tersebar di beberapa media massa ini menutup acara workshop dengan mengutip ungkapan Temujin dari tlatah Mongol, “Lebih baik menyalakan satu lilin daripada mengutuk kegelapan.”

Seni Musik


Girilaja, Antara Berkesenian dan Keprihatinan


Oleh : Jabbar Abdullah (Pegiat Komunitas Sastra Lembah PringBiro Mojokerto)


Bermain musik sampai “mabuk”, bukan mabuk saat bermain musik”.

(Motto Komunitas Musik Girilaja)

Mas Er, begitulah panggilan akrabnya. Sederhana, bersahaja dan selalu saja “gelisah”. Tidak banyak yang tahu siapa sebenarnya Mas Er ini. Di muka umum, mungkin orang akan menganggap dia bukan siapa-siapa. Tapi ketika kita “mampu” menyentuh hatinya dan mengajaknya untuk ngobrol tentang ranah kesenian di Kota Mojokerto, maka kita akan dibuatnya geleng-geleng. Bagaimana tidak, ternyata dia bak “bank data” ketika diajak mengobrolkan perihal peta kesenian di Kota Mojokerto. Satu kelebihan yang tidak bisa diabaikan adalah kreatifitasnya dalam berkesenian, terutama soal musik akustik.

Nama lengkapnya Erwan Affandianto. Menapakkan kakinya di dunia kesenian (musik) sejak masih duduk di bangku kelas 2 SMP. Hampir tiga puluh tahun dia “riwa-riwi” di jagad kesenian. “Yang menyebabkan saya tetap ajeg dalam berkesenian (musik) karena saya melakukan semua itu dengan “senang””, kata pria kelahiran Mojokerto 17 Oktober 1962 ini.

Perjalanannya mengarungi jagad kesenian cukup menarik untuk disimak. Kegelisahannya yang paling “akut” adalah ingin merubah “wajah” pola berkesenian di Kota Mojokerto. Menurutnya, kesenian di Kota Mojokerto “kurang” perhatian. Berangkat dari sinilah, lantas dia merintis jalan untuk membentuk komunitas musik. Terbentuknya Komunitas musik Girilaja tidak bisa dilepaskan dari riwayatnya yang panjang dan berliku. Ada tiga fase penting yang merupakan mata rantai terbentuknya komunitas musik Girilaja saat ini.

Anak Rakyat-1

Ide mendirikan komunitas musik sudah sejak lama berlelayapan di benak Mas Er. Tapi semua itu hanya “ide” sampai bertemu dengan Setyo Wacono pada tahun 1978 yang “berbaik hati” menampung ide sekaligus memfasilitasi semua kebutuhan Mas Er saat secara resmi komunitas musik itu terbentuk dan di beri nama “Anak Rakyat”. Tempat latihan Anak Rakyat waktu itu di salah satu rumah studio di Jl. Gajahmada (di bawah jembatan layang). Sementara warung tempat mereka mengisi perut berada di lokasi sekitar pemandian Sekarsari (perempatan Jl. Empunala). Anggota Anak Rakyat berjumlah 8 orang yang kesemuanya adalah pengamen jalanan, termasuk Mas Er sendiri.

Unik tapi nyata. Begitulah kiranya sebutan yang pas untuk Anak Rakyat yang waktu itu karena belum ada percontohan komunitas musik yang memadukan alat musik gamelan (gong, kendang dll) dengan alat musik modern semacam gitar dan harmonika. Diakui atau tidak, dari perpaduan tersebut ternyata mampu melahirkan irama musik (bahkan jenis aliran musik baru) yang menarik dan layak untuk didengar oleh mereka yang benar-benar “mengerti” musik. “Kalau bicara soal aliran musik, permainan musik kami lebih condong kepada aliran musik country. Tapi saya lebih senang menyebutnya dengan kontemporeran”, jelas Mas Er.

Kucuran keringat dan kesungguhan Anak Rakyat dalam berkesenian musik akhirnya berbuah manis. Tiap kali ada festival atau lomba bermain musik, mereka selalu mendapat juara. Salah satunya saat menjadi Juara II Festival Musik Volk Song di Gedung Nasional (kini GOR Majapahit) di Jl. Gajahmada 149 kota Mojokerto. Peristiwa yang tak terlupakan bagi Anak Rakyat saat itu (tahun 1980-an) adalah ketika diundang oleh stasiun televisi nasional TVRI Surabaya untuk bermain musik bersama dengan kelompok musik “Triple S” asal Kota Jember.

Anak Rakyat-2

Anak Rakyat sempat mengalami “masa tenggang” dan akhirnya bubar karena beberapa personilnya mengundurkan diri. Namun Mas Er tak patah semangat. Perlahan-lahan dia kembali bangkit dengan tetap mengajak rekan-rekannya sesama pengamen jalanan untuk membentuk komunitas musik baru. Dengan jumlah anggota yang sama pula, terbentuklah “Anak Rakyat-2”.

Mungkin tidak banyak yang tahu kalau Kota Mojokerto memiliki ahli karawitan dari keturunan Tionghoa, namanya Om Jang. Dari orang Tionghoa inilah, para personil Anak Rakyat-2 banyak sinau (belajar) karawitan. Mas Er menyebutkan, dulu rumah Om Jang terletak di Jl. Mojopahit (kisaran 3 rumah/ toko sebelah utara toko buku Hasan bin Syeban). “Kami berhutang budi terhadap Om Jing. Beliau banyak meluangkan waktunya untuk melatih kami karawitan. Beliau paling pinter kalau memainkan alat musik kendang”, kenang Mas Er.

Kurang lebih enam bulan lamanya Anak Rakyat-2 sinau karawitan kepada Om Jing, dan dalam rentang waktu itu pula di Kota Mojokerto vacuum lomba.

Anak Rakyat-3

Setiap komunitas (apapun itu) selalu akan mengalami pasang-surut. Hal yang sama terjadi pada komunitas musik Anak Rakyat. Usia Anak Rakyat-2 juga tidak begitu lama. Sempat bubar dengan sebab yang sama pula ketika terbentunya Anak Rakyat-1. Kelahiran Anak Rakyat-3 berawal dari “kekangenan” personil Anak Rakyat-2 untuk kembali bermain musik bersama-sama. Sekitar tahun 1989-an, Anak Rakyat-3 pernah mengikuti Lomba Volk Song yang bertema “Panggalian Seni Budaya Asli Majapahit” yang diselenggarakan oleh BP7. “Yang saya ingat, waktu itu sempat dipertunjukkan salah satu tarian asli Majapahit, itupun mendatangkan guru tari wanita dari Malang”, ungkap Mas Er, suami Minarsih ini.

Pada tahun yang sama, Anak Rakyat-3 mendapatkan kesempatan mewakili Kota Mojokerto mengikuti Festival Kesenian Jawa Timur di Surabaya. Namun tidak jadi, karena ada kelompok musik lain yang ngotot untuk ikut, sementara dana yang dialokasikan tidak mencukupi untuk “menghidupi” dua kelompok musik yang akan diberangkatkan ke Surabaya. Akhirnya dengan legowo Mas Er mengundurkan diri dan melepas kesempatan emas untuk berekspresi di tingkat Jatim. Di samping aktif di Anak Rakyat -3, Mas Er bersama Saipul Bakri (Penyair Buruh), sempat membentuk Komunitas Musik Buruh. Kegiatan latihan mereka di Gedung Saraswati, Jl. Hayam Wuruk Kota Mojokerto.

Kelahiran Girilaja

Setelah Anak Rakyat 1, 2 dan 3 mengalami stagnasi, Mas Er memutuskan untuk “cuti” bermusik. Di samping bermusik, untuk mencukupi kebutuhan ekonomi keluarganya, Mas Er pernah bekerja sebagai penunggu foto copy di PT. Telkom Jl. A. Yani dengan gaji Rp. 30.000 per/bulan. Ia juga pernah bekerja sebagai cleaning service di PT. Telkom Jl. Empunala dengan gaji Rp. 111.000 per/bulan. Suatu kali istrinya pernah memintanya untuk berhenti sama sekali berkesenian. Alasannya karena tidak ada yang diharapkan dari berkesenian, terlebih untuk mencukupi kebutuhan ekonomi rumah tangga. Akhirnya Mas Er mampu memberikan pengertian terhadap istrinya, bahwa dalam berkesenian bukan cuma uang semata yang dicari. Lebih dari itu, dunia kesenian baginya adalah suatu “kesenangan” lain yang mampu memberikan “kepuasan” tersendiri bagi pelakunya ketika berkesenian itu tidak dilakukan dengan main-main.

Gagasan untuk kembali aktif di dunia komunitas musik muncul ketika secara tidak sengaja ada sekelompok pemuda di kampungnya yamng kerap pinjam gitar untuk mengamen di jalanan. Mas Er merasa prihatin melihat pemuda di kampungnya yang ngamen di jalanan yang kurang bisa menghargai hasil keringatnya sendiri. Hasil dari ngamen itu menjadi musproh saat dirupakan sebotol minuman keras. Berangkat dari keprihatinan itulah, Mas Er kemudian menawarkan kepada pengamen jalanan itu untuk membentuk komunitas musik. “Alhamdulillah. Dengan adanya kegiatan bermusik ini, perlahan-lahan anggota saya mampu meninggalkan kebiasaan negatif mereka. Sebelumnya mereka juga saya bai'at untuk tidak main-main dalam berkesenian”, ujar bapak tiga anak ini. Sementara untuk tempat latihan, Mas Er lantas meminta tolong kepada kawannya, Saipul Bakri (Biro Sastra Dewan Kesenian Kota Mojokerto), agar diupayakan untuk kiranya dapat meminjam beberapa alat dan tempat di Dewan Kesenian Kota Mojokerto sebagai tempat latihan.

Girilaja beranggotakan 8 orang dengan berbagai keahlian bermusik dan bermacam profesi. Agus Sugiyono (Gong, tukang becak), Agung (Bunguh, buruh pabrik), Sigit (Saron dan Perkusi, pengamen jalanan) dan Agus Prasetyan (Bass, pengamen jalanan), Mardiono alias Growak (Gitar, pasukan kuning swasta PT. Bijak), Catur Palupi alias Upik (Perkusi, ibu rumah tangga dan les privat), Andik (Peking, pengamen jalanan) dan Nur Syamsi (Kendang, kuli batu).

Yang patut diteladani dari kelompok musik Girilaja ini adalah mereka senantiasa berupaya untuk menciptakan lagu dan lirik sendiri. Antara lain, Bung Karno, Indonesiaku, Negeri Main-main dan Mojokerto Berseri. “Kita tidak usah takut kalau lagu kita tidak laku. Sejelek apapun lagu itu, pasti ada penggemarnya”, yakin Mas Er.

Untuk dunia kesenian di Mojokerto, khususnya di kota, Mas Er berharap adanya upaya-upaya dari pihak-pihak yang peduli untuk turut memperhatikan nasib para seniman dan meningkatkan perhatiannya terhadap dunia kesenian. “Mojokerto ini kaya akan seniman yang kreatif, tapi banyak yang terabaikan, baik pelaku maupun keseniannya itu sendiri”, pungkas Mas Er.

Oret-oret

WASIAT


Kutitipkan selembar puisi ini
padamu
Selepas ku pergi nanti
Ku ingin kau yang memilikinya
Hanya itu harta berhargaku

Aku akan terus hidup dalam puisi itu
Aku musnah saat puisi itu
telah menjadi sampah
Aku tak berarti
Saat kau tak lagi peduli

Pentas Monolog


Ketika Pohon Tidak Berakar


Oleh : Jabbar Abdullah

(Pegiat Komunitas Sastra Lembah Pring Biro Mojokerto)


Hidup tanpa rintangan (ujian) bukanlah hidup yang sebenarnya, seseorang harus hidup dengan api di bawah kakinya. (Muhammad Iqbal)


Seorang laki-laki setengah baya dengan langkah gontai memasuki ruang berlampu remang. Raut wajahnya kusam. Sorot matanya gelisah bercampur ketakutan. Kelihatannya dia menyimpan “sakit” yang dalam. Entah, “sakit” apa yang dirasakannya. Tak ada yang benar-benar tahu selain dirinya sendiri. Pada kedua pundaknya bergelantung dua sosok mayat yang tak lain adalah anak dan istrinya tercinta. Kecintaan yang berlebihan pada anak dan istrinya membuat laki-laki itu tidak segera dapat menerima “kunjungan” kematian yang tiba-tiba. “Kenapa kematian begitu kejamnya menghancurkan surga kami”, keluh si tokoh sembari duduk di sebelah mayat istri dan anaknya.

Sepotong narasi di atas adalah kisah dalam naskah monolog berjudul “Pohon Tanpa Akar” karya Maila yang pernah dipentaskan di Medan, 10 Maret 2005. Sedangkan si tokoh diperankan oleh Andrei Wibowo atau yang akrab dipanggil Andrei “Brengos”.

Pada intinya, naskah monolog “Pohon Tanpa Akar” berkisah tentang seorang lelaki malang yang mengalami kekecewaan dan pengkhianatan. Orang-orang kepercayaannya semasa masih berjaya, satu persatu menjauh dan pergi meninggalkannya. Dengan kata lain, si tokoh mengalami kebangkrutan dalam hidup. Harta, jabatan, teman bahkan istri dan anaknya silih berganti “pergi” meninggalkannya. Namun semua itu dianggapnya sabagai ujian yang akan dialami oleh siapapun yang hidup. Karena itulah, si tokoh yang pada awalnya mengeluh dan meratap-ratap, perlahan tapi pasti kembali bangkit. Ujian itu dijadikannya bahan renungan yang mendalam. “Bagaimanapun, hukum sebab akibat tetap berlaku dalam masalah ini”, katanya.

Andrei “Brengos”, yang saat ini tinggal di Jl. Benteng Pancasila No. 28 juga pernah mementaskan beberapa naskah lain. Di antaranya, naskah “Wabah” karya Hanindawan, “Siklus” karya Rony Bolot, “Bendera Setengah Tangkai” dan “Sisi Gelap kamar Yuli” gubahan Bagus Mahayasa (Lidhie Art Forum). “Untuk saat ini, naskah monolog “Pohon Tanpa Akar” yang saya pentaskan kemarin di STIKES Dian Husada Jabon bersama teman-teman Teater Aprodit adalah last but not least, terakhir tapi bukan yang terakhir”, terang pria kelahiran Mojokerto, 22 Januari 1972.

Satu pesan moral dalam naskah monolog “Pohon Tanpa Akar” yang dapat dijadikan sebagai satu bahan renungan bersama adalah bahwa kita baru dapat merasakan nilai hakiki dari segala yang ada dan yang kita miliki (harta, jabatan dan istri serta anak) saat semua yang ada dan yang telah kita anggap sebagai milik kita satu-persatu telah pergi dengan segala sebabnya, dan kematian adalah sebab yang tak seorangpun dapat menduganya. Kematian datang dari arah yang tidak pernah kita duga. “Cukuplah kematian sebagai pengingat”, begitulah peringatan-Nya.

Seni Budaya


Arief Zulkornen, Tukang Jahit Kitab dari Kampung Mercon

Tetap Bertahan Melestarikan Tradisi Penjilidan Manual


Oleh: Fahrudin Nasrulloh

(Pegiat Komunitas Lembah Pring Jombang)


JOMBANG – Di tengah industri penjilidan ala modern, sosok Arief Zulkornen merupakan keajaiban kecil di tengah gemuruh industri di Jombang yang umumnya berorientasi pada keuntungan besar. “Saya hanya melakoni wasiat abah saya untuk terus melanjutkan usaha penjilidan ini,” demikian tuturnya, pada Senin sore, 25 Agustus 2008. Bapaknya, Pak Zulkornen yang kelahiran 1956 di Rembang itu, semula nyantri di Pondok Tebuireng pada jaman Gus Kholik (kakak Kiai Yusuf Hasyim), putra KH. Hasyim Asy’ari. Kemudian ia menikah dan menetap Kampung Keras, Desa Keras, Kecamatan Diwek.


“Sebelumnya, bapak saya belajar pada Pak Halimi. Tapi orang yang paling awal memulai penjilidan manual ini adalah Pak Dawam, santrinya Mbah Hasyim,” tambah Arief yang menekuni bidang unik ini sejak 1993, di usia 17 tahun. Usaha bapaknya dimulai tahun 70-an sampai 2005. Order Pak Zul, semula dirintis dari pondok ke pondok, karena relasi belum luas. Seperti dari Pondok Gontor sampai Mojokerto, Lirboyo hingga hampir pelanggannya pernah dari seluruh Jawa Timur. Waktu itu ia sempat dibantu adiknya, Kamaluddin. “Dulu pernah abah punya 4 karyawan, setelah dapat order dari Kiai Zainal dari sebuah pesantren di Ngoro, dengan orderan sekitar 100 jilidan sebulan, mulai tahun 80-an sampai 1997. Mereka pesan nyetak Al-Qur’an ke Penerbit Toha Putra dalam bentuk sudah jahitan, lalu diserahkan pada kami untuk dijilid,” kenang Arief sembari memandangi foto abahnya di dinding ruang tamunya. Sementara order jilidan terbanyak dari para santri di sekitar Tebuireng.


Usaha ini kemudian agak merosot di tahun 1995 hingga 1997, ketika penjilidan modern mulai berkembang pesat. Terlebih pada 2005, saat Pak Zul meninggal dan Arief musti meneruskan amanatnya tersebut.


Proses penjilidan manual ini kelihatannya sederhana. Tapi hasilnya cukup memuaskan. Jahitan manual dapat diuji dan lebih kuat serta tahan lama puluhan tahun dibanding hasil jilidan pada umumnya. Juga cara penyampulan dan pengelemannya. Yang pasti hasil kerjanya lebih indah dan cantik serta membikin pembaca kian mencintai buku yang sebelumnya robek-robek atau mbrodol. Arief melayani mulai dari penjilidan buku, kitab, majalah, dan koran. Caranya pertama: diurutkan nomornya, dijahit, dilem, dikeringkan, dipotong, lalu dirapikan. Rincian bahannya: karton, kertas, lem rajawali, benang bol, dan lem latex. Sementara alat-alat yang digunakannya berupa gunting kuno, pres besi lawas, penjepit antik, gaman pemotong, bor baja pilihan, pisau penghalus, dan jarum penjahit.


Saat ini langganan yang terbilang tetap ada dua: H. Syafiq Munawwar (dari Perpustakaan Darul Ilmi Ponpes Al-Munawwar Sidayu Gresik); Perpustakaan Ponpes Wahid Hasyim Tebuireng yang sejak 20-an tahun lalu dipasrah-kelolakan pada Pak Zainal dan dibantu oleh Mas Tamrin. “Pernah ada juga yang njilid ke sini, sekitar tahun 1998, yaitu perpustakaan KUA Kertosono. Karena, kata mereka, hasilnya bagus sekali. Terbukti kemudian, KUA ini memeroleh juara tingkat karesidenan Kediri. Hingga kepala KUA-nya saat itu di-haji-kan. Sejak itu, hampir seluruh KUA Kota Kediri juga njilid ke sini,” papar Arief.


Harga penjilidan tergantung ukurannya. Rata-rata, untuk ukuran koran 20 ribu, majalah 15 ribu, dan buku 13 ribu. Ketika ditanya kenapa ia masih berkeyakinan untuk tetap meneruskan usaha ini, ia menjawab, “Jilid-menjilid itu merupakan karya seni. Nilai artistiknya ya pasti kepuasan yang susah diungkapkan. Dari sesutu yang amburadul menjadi rapi kembali. Pelanggan puas, saya bahagia. Intinya, memuaskan orang itu kan juga berpahala.”


Ia juga pembaca berat semua jenis buku. Bahwa yang njilid di tempatnya berasal dari berbagai macam orang dalam bentuk jenis buku yang berbeda-beda pula. Ia bercerita soal pengalaman abahnya, “Pas jamannya abah, ada orang suruhan Kiai Syamsuri dari Tebuireng untuk menjilidkan kitabnya. Beberapa jilid kitab kuning, cetakan Penerbit Beirut, lawas sekali. Isinya tentang tafsir, seingat saya. Kitab tersebut katanya waktu itu seharga seekor kambing.”


Pengalaman Arief yang paling berkesan adalah ketika datang order jilidan berupa akte nikah dari jaman Belanda, ejaan lama, dari kantor KUA Kertosono. “Masya Allah, susahnya amit-amit, saya keringetan pas njilidnya. Soalnya kan kertasnya sudah sangat tua. Jadi motongnya harus hati-hati sekali,” ceritanya bersemangat sambil menyruput kopi-jahe panasnya. Dalam lima bulan belakangan ia menerima order cukup menumpuk dari seorang penulis asal Mojokuripan berupa buku-buku sastra lawas, naskah Jawa kuno, komik-komik, dan cerita silat. Uniknya, penulis ini, saking salutnya, seringkali langsung bayar sebelum jilidannya selesai.


Ia berharap dapat terus ngopeni penjilidan ini, entah sampai kapan. Ia pun membayangkan usahanya dapat lebih maju dan berkembang plus bertambah langganan. “Sebenarnya butuh rekan satu atau dua. Tapi saya belum bisa bayar secara pantas. Dan keterampilan ini kan butuh kesabaran dan ketelatenan. Jadi jarang ada yang mau gabung. Yang belum bisa saya punya cuma mesin potong besar. Ya, agar tidak riwa-riwi ke kota Jombang untuk motong,” begitu pungkasnya.


Rebung Lembah Pring


Gerakan Literasi di Taman Baca Masriyatul Ilmi


Fahrudin Nasrulloh*


Sejauh mana tradisi literasi atau budaya membaca dan menulis bagi anak-anak dapat ditumbuhkan di Jombang? Barangkali hanya beberapa gelintir yang ada di kota santri ini. Salah satunya adalah Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Masriyatul Ilmi di Keboan, Ngusikan, Jombang, yang diasuh oleh Nanik Masriyah dan Lilik Zaenab.

Sehubungan dengan itu, sejumlah pegiat dari Komunitas Lembah Pring (KLP) Jombang, yang diketuai Jabbar Abdullah, mengunjungi TBM ini pada Minggu, 1 Maret 2009. Selain bergiat di dunia sastra-budaya, KLP juga mengembangkan jaringan dengan berbagai pihak untuk membudayakan tradisi literasi. Inspirasi ini ditimba saat KLP mengikuti even Ode Kampung 3 di Komunitas Rumah Dunia-nya novelis Gola Gong, di Serang, Banten, pada akhir Desember 2008.

TBM Masriyatul Ilmi secara terbuka didirikan Nanik Masriyah pada 1 Januari 2008, meski sebelumnya TBM ini secara non-formal telah ramai dikunjungi sejak sekitar tahun 2000. Bu Nanik, yang juga adalah guru di SMPN Kudu ini, sebenarnya sudah lama bercita-cita bagaimana minat membaca dan menulis ditanamkan sejak dini pada anak. Semenjak 2006, ia juga dibantu dua saudaranya: Muji Murnining Ati dan Mentrik Sulih Puji Rahayu, untuk memasyarakatkan TBM ini yang pada mulanya hanya semacam kelompok belajar biasa.

Jumlah anak-anak yang menjadi anggota resmi adalah 301 anak. Namun jika ditotal secara keseluruhan bisa mencapai 600-an anak. Tiap sore TBM ini berjubel dikunjungi, terutama pas hari Minggu. Bu Nanik, yang alumnus 1993 Sastra Indonesia Universitas Wijaya Kusuma Surabaya ini, sangat terkesan dan menimba inspirasi langsung dari tradisi membaca masyarakat Jepang di mana pada 1994 ia terpilih menjadi salah satu (dari 27 orang/propinsi) peserta Pemuda Karang Taruna (bidang agrikultura) se-Indonesia untuk studi banding ke negeri Samurai itu selama 11 bulan. Juga, di negeri yang sama, pada 1998, ia termasuk dari 3 peserta yang mewakili Indonesia untuk mengikuti semacam “pelatihan pendampingan” bagi ibu-ibu berprestasi di Indonesia.

TBM Masriyatul Ilmi dapat menjadi percontohan, dengan bukti nyata bagaimana tradisi membaca bisa menjadi suatu “Gerakan Literasi” bahkan di kampung kecil seperti Keboan. Rata-rata mereka berasal dari anak-anak SD, SMP, dan SMA, yang bersekolah di Kudu, Ngusikan, Gedeg, dan Ploso. Semangat dan minat besar mereka terus berkembang pesat di mana para pembinanya juga menyuport dan berupaya terus menambah bahan bacaan. “Yang paling ramai, mereka mengunjungi TBM ketika masa libur sekolah. Bahkan kami sempat bingung campur bangga saat koleksi perpustakaan kami ludes dipinjam,” cerita Bu Zaenab. “Karena itu, kami kerap pula merogoh kocek sendiri untuk menambah koleksi perpus kami,” tambah Bu Nanik.

TBM ini terbuka untuk umum di waktu sore mulai pukul 15.00-17.00 WIB di hari Senin-Sabtu, dan pada Minggu atau hari libur nasional mulai pukul 08.00-13.00 sampai 15.00-17.00 WIB. Sejumlah buku yang paling diminati anak-anak di TBM Masriyatul Ilmi adalah tetralogi Andrea Hirata, cerita detektif Conan, novel Ayat-ayat Cinta, cerita bergambar, dan puluhan fiksi islami remaja maupun dewasa.


Dalam kesempatan itu, ketua KLP Jabbar Abdullah, menyerahkan cinderamata berupa 1 novel berjudul Dunia Kecil karya A. Syauqi Sumbawi, beberapa buletin komunitas, dan Peta Ibu Kota Majapahit yang dikopi-ulang dari buku babon Bukti-bukti Kejayaan Majapahit Muncul Kembali (penyusun Prof. Moendardjito dkk). KLP juga akan mengupayakan bagi TBM ini (juga TBM-TBM lain di Jombang) untuk mendapatkan sumbangan bahan bacaan dengan membuka jaringan ke banyak pihak, baik dari perorangan, penerbit, komunitas literasi, maupun dari instansi terkait. “Kunjungan KLP kali ini cukup berkesan, mereka akan membantu kami secara berkala, terutama dalam hal pengembangan mading, suplai buku, jurnalistik, dan pelatihan bercerita dan menulis cerita,” tutur Bu Nanik.


Dua hari kemudian, 3 Maret 2009, KLP telah mengantongi donator buku dari penerbit Pustaka Pujangga, Lamongan. Direktur penerbit ini, Nurel Javissyarqi, menyumbang 18 buku dan 3 jurnal kebudayaan The Sandour. TBM Masriyatul Ilmi sangat berterima kasih atas sokongan yang tak disangka-sangka tersebut. “Kami juga terbuka bagi penyumbang buku lain. Dan kami berharap TBM lain juga sama-sama bergeraka seperti kami,” pungkas Bu Zaenab.

--------

*Fahrudin Nasrulloh, pegiat Komunitas Lembah Pring Jombang

Komunitas Musik Country Girilaja Mojokerto

Logo Komunitas Lembah Pring Jombang

Logo Komunitas Lembah Pring Jombang
Design by: Fahrudin Nasrulloh dan Samsul Nanggalrek