Minggu, 19 Juli 2009

Seni-Budaya Jombang

Besutan: Teater Tradisional Jombang

Oleh: Nasrul Ilahi*

Besutan adalah kesenian tradisional asli Kabupaten Jombang yang merupakan pengembangan dari Kesenian Lerok dan merupakan cikal bakal Kesenian Ludruk. Kesenian Lerok merupakan kesenian yang bersifat amen. Pelakunya berpindah dari satu keramaian ke keramaian lain untuk menyuguhkan pertunjukan teater sederhana. Pelakunya semula tunggal yang melakukan monolog dan dalam perkembangannya pelakunya lebih dari satu orang. Lakon yang dibawakan merupakan cerminan dari kehidupan sehari-hari. Dari bermacam-macam lakon yang disuguhkan, ternyata yang menggunakan tokoh Besut paling digemari penonton. Lama kelamaan, karena lebih sering melakonkan Besut, maka keseniannya kemudian disebut Besutan.

Kata besutan berasal dari kata besut. Besut itu sendiri merupakan akronim dari kata beto maksud (membawa pesan). Ada juga yang mengatakan besut berasal dari kata besot (menari). Besut merupakan nama tokoh utama dalam teater Besutan. Tokoh Besut merupakan sosok laki-laki yang cerdas, terbuka, perhatian, kritis, transformatif, dan nyeni.

Dalam lakon Besutan, tokoh yang selalu hadir antara lain: Besut, Rusmini, Man Gondo, Sumo Gambar, dan Pembawa Obor. Tokoh lain bisa dimunculkan sesuai kebutuhan cerita. Besut yang gagah dan Rusmini yang cantik selalu menjadi sepasang kekasih atau sepasang suami istri. Sumo Gambar selalu berperan antagonis, sebenarnya sangat mencintai Rusmini, namun selalu bertepuk sebelah tangan. Man Gondo yang merupakan paman Rusmini, selalu berpihak pada Sumo Gambar, karena kekayaannya. Dengan tema apa pun lakon atau ceritanya, bumbu cinta segitiga antara Rusmini, Besut, dan Sumo Gambar selalu menjadi penyedapnya.

Busana Besut sangat sederhana. Tubuhnya dibalut kain putih yang melambangkan bersih jiwa dan raganya. Tali lawe melilit di perutnya melambangkan kesatuan yang kuat. Tutup kepalanya merah melambangkan keberanian yang tinggi. Busana Rusmini merupakan busana tradisional Jombang, menggunakan kain jarik, kebaya, dan kerudung lepas. Man Gondo berbusana Jawa Timuran, sedang Sumo Gambar berbusana ala pria Madura.

Ritual Besutan

Dalam pertunjukan Teater Rakyat Besutan, selalu diawali dengan semacam ritual yang berfungsi sebagai intro. Ritual ini menggambarkan bahwa Besut melambangkan masyarakat yang hidupnya terbelenggu, terjajah, terkebiri, dibutakan, dan hanya boleh berjalan menurut apa kata penguasa (baca: penjajah).

Dalam ritual, selalu dimulai dengan Pembawa Obor yang berjalan dengan penuh waspada, hati-hati, dan terus mengendalikan Besut yang selalu di belakangnya. Besut yang matanya terpejam (dilarang banyak tahu), mulutnya tersumbat susur (dilarang berpendapat), berjalan ngesot (merayap) mengikuti ke mana obor bergerak. Besut selalu sigap menanti setiap peluang. Pada satu kesempatan, Besut meloncat berdiri, tangannya merebut pegangan obor, dan dengan sekuat tenaga, susur yang ngendon di mulutnya disemprotkan ke nyala obor hingga padam. Mendadak matanya terbuka, mulutnya bebas, langsung menari dengan heroik.

Demikianlah, secara sederhana, gambaran teater rakyat yang bersama Besutan. Terus melestarikannya dan mengeksplorasinya merupakan tugas kaum seniman Jombang dan masyarakat Jombang secara keseluruhan.



*Nasrul Ilahi, Pemerhati budaya dan sebagai Kasi Pengembangan dan Pemberdayaan Kesenian pada Disporabudpar Jombang

Sarasehan Seniman Ludruk 2009

Sarasehan Seniman Ludruk 2009

Shared via AddThis

Minggu, 14 Juni 2009

Ludruk Karya Budaya


Ludruk Karya Budaya, Cermin Yang Hidup


Oleh : Jabbar Abdullah*

Marsudyo wong cilik biso gumuyu

(Berupayalah membuat orang kecil bisa tersenyum) -- Semar --

Segala yang menjadi perhatian sudah barang tentu memiliki “sesuatu” yang menarik dan patut untuk disimak. Begitu pula ketika membincangkan Ludruk Karya Budaya (LKB) yang menurut saya telah menjadi “legenda hidup” sebagai salah satu ludruk yang –mungkin– tertua dan pernah ada di Jawa Timur yang mampu bertahan hidup selama 40 tahun. Berangkat dari hasrat dan adanya “sesuatu” yang menarik itulah tulisan ini dimunculkan dengan maksud untuk menyelami lebih dalam proses kreatif LKB dalam melangsungkan tugas berkeseniannya untuk menjadikan kesenian ludruk lebih bermartabat dan terhormat serta bukan hanya sekadar hiburan saja.

Bagi yang sempat membaca, secara historis, sosok LKB telah diuraikan cukup gamblang oleh Khairul Inayah dengan judul “40 Tahun Ludruk Karya Budaya” pada Minggu (31/5) di rubrik Serambi Budaya, Radar Mojokerto. Untuk itu, dalam tulisan ini saya tidak akan mengulang-hadirkan lagi tentang riwayat hidup LKB. Lebih jauh, saya ingin mempertanyakan, apakah kita sebagai masyarakat kesenian (terutama di Mojokerto) benar-benar telah ber-andarbeni dan perhatian terhadap taqdir seni-budaya kita yang miliki?

Pada tanggal 29 Mei 2009 lalu, LKB telah berusia 40 tahun. Selama 40 tahun “berjihad” di ranah seni tradisi (ludruk), LKB (dalam kondisi apapun) telah menunjukkan diri sebagai sosok ludruk yang mandiri dan tangguh dengan tidak sekalipun mengemis, apalagi merengek-rengek untuk “disusui” oleh “Nippon” dalam menghidupi rumah tangga ludruknya. Lebih jauh, Cak Edy Karya menegaskan bahwa kebiasaan “menyusu” tidak baik untuk “kesehatan” (baca: martabat) ludruk itu sendiri, apalagi jika telah menjadi hobi. Bahkan, LKB semampu mungkin untuk dapat menjadi sosok ludruk yang “tangannya di atas daripada tangannya berada di bawah”. Sejak awal Cak Edy Karya telah menanamkan keyakinan kepada anggota ludruknya bahwa ludruk ini harus mampu mandiri dan tidak condong ke mana-mana.

Secara tidak langsung, prinsip kemandirian ini berdampak pada ruang gerak ludruk itu sendiri. Dalam konteks ini, sepertinya LKB telah memetik buahnya. Karena tidak terikat kepada siapapun dan apapun, LKB bebas terbang sesukanya untuk tampil –kapanpun dan di manapun– sesuai dengan job yang mereka terima hingga menerima undangan sebagai bintang tamu atau terkadang juga mengikuti beberapa lomba.

Prinsip lain yang tak kalah pentingnya adalah andarbeni (rasa memiliki). Cak Edy Karya menempatkan prinsip ini dalam skala prioritas yang sejak dini dan secara kontinyu harus selalu dipupuk demi mencegah perceraian dalam rumah tangga LKB. Kurangnya rasa andarbeni ini bisa jadi untuk ke depannya turut memberikan pengaruh kuat –bahkan menentukan– terhadap nasib atau “taqdir” hidup dan matinya LKB, mungkin juga bagi grup ludruk atau komunitas secara umum. Andarbeni dapat tumbuh subur manakala telah tercipta suasana yang kondusif dan kekeluargaan agar seluruh anggota dapat kerasan serta nyaman untuk tinggal di rumah bernama LKB. Sedangkan muaranya adalah kerinduan yang mendalam untuk pulang kala berada di luar rumah dan nyambangi tatkala ada anggotanya yang memasuki masa pensiun.

Sedangkan 3 bentuk komunikasi yang diterapkan LKB yang juga dalam rangka menjaga keharmonisan rumah tangga ludruknya adalah tedean, spelan dan nyebeng. “Tedean” merupakan bentuk komunikasi yang wajib dilakukan antara anggota yunior dan senior dalam rangka menumbuhkan keakraban dan mempererat rasa persaudaraan antara sesama anggota ludruk. Komunikasi berupa tanya-jawab seputar dunia ludruk, mulai dari keaktoran sampai urusan dapur. Hal ini diperlukan agar tidak terjadi pengkastaan di antara anggotanya. Di samping itu, adanya tedean juga diharapkan dapat mengikis kecemburuan serta menjadi awal dari proses regenerasi.

Sementara spelan adalah bentuk komunikasi yang terjadi ketika hendak pentas dan naik panggung. Sedapat mungkin tiap-tiap anggota (terutama yunior) untuk bertanya (janjian) tentang kapan saatnya harus keluar (baca: naik panggung) yang biasanya terjadi saat menyuguhkan lawakan. Komunikasi semacam ini diperlukan juga turut menentukan kualitas sebuah pertunjukan ludruk. Seorang pemain diharapkan mampu berpikir kreatif agar pertunjukkan yang disuguhkan tidak monoton alias itu-itu melulu. Di samping itu, spelan juga bertujuan untuk menjaga efisiensi waktu agar tidak molor dari waktu yang telah ditentukan.

Kemudian komunikasi yang ketiga adalah nyebeng. Yakni komunikasi yang diwujudkan dengan diwajibkannya anggota yunior menonton atau melihat seniornya pentas. Lebih jauh lagi, sedapat mungkin nyebeng ini diterapkan di luar dengan menonton grup ludruk lainnya untuk menambah pengetahuan dan wawasan baru (kreatifitas) tentang dunia perludrukan. Komunikasi ini juga tidak menutup kemungkinan berlaku bagi anggota senior. Singkat kata, kalau ingin ditonton, maka juga harus mau menonton.

Dalam konteks sosial, LKB sadar betul bahwa mereka juga menjadi bagian dari masyarakat. Karena itulah mereka terus berupaya membangun pola interaksi yang baik saat menjalankan tugas kesenimanannya, baik secara individu maupun kolektif. Dengan kata lain, LKB memiliki tanggung jawab moral dan sosial ketika di hadapkan pada realitas masyarakat tempat di mana mereka berproses kreatif. Kesadaran inilah yang kemudian menjadikan LKB banyak mendapatkan apresiasi positif ketika pentas, baik dari masyarakat kesenian (penonton) maupun para pengamat ludruk. Kepercayaan ini tidak disia-siakan oleh LKB. Mereka senantiasa melakukan pembenahan diri (bercermin) di segala lini yang berkaitan dengan perludrukan dan membayar kepercayaan masyarakat dengan tampil sebaik-baiknya ketika mendapat tanggapan. Karena yang terpenting bagi Cak Edy Karya selaku pimpinan LKB adalah main yang baik dulu, urusan nominal belakangan.

Jika LKB mampu mencuri hati para penontonnya, maka tidak menutup kemungkinan kalau LKB bukan hanya menjadi milik dirinya sendiri melainkan juga akan menjadi milik semua lapisan masyarakat.

Kesadaran di atas jugalah yang membuat LKB terbebas dari “penyakit” kesenimanan, yaitu ujub (narsis atau ke-aku-an) dan eskapisme, yaitu seniman yang tidak konsisten dalam ngopeni kesenian yang digelutinya sehingga “loncat sana-loncat sini” untuk menutupi ketidak-kreatifannya. Seniman semacam ini biasanya mengalami krisis eksistensi karena ketidakmampuannya –kalau tidak dikatakan malas– menghidupi keseniannya.

Segala upaya LKB yang diuraikan di atas hingga sampai pada fase kesadaran sosialnya merupakan bentuk “jihad kebudayaan” yang akan terus ditumbuh-kembangkan hingga LKB tak berwujud sebagai ludruk lagi, atau lebih tepatnya menjadi “situs kebudayaan”. Terlepas dari apa wujud akhir LKB nanti, mereka tetaplah layak dijadikan “cermin hidup” bagi kawan ludruk lainnya dari segala sisinya, terlebih dari sisi kemandiriannya. Karena bagaimanapun, harga diri kesenian tradisi (dalam hal ini ludruk) menempati peringkat teratas untuk senantiasa diperjuangkan dan dipertahankan hingga “maut” menjemput ludruk.

Akhirnya, saya mengucapkan: selamat ulang tahun untuk Ludruk Karya Budaya yang ke-40. Semoga tetap jaya dan “jihad kebudayaan”-nya bermanfaat bagi umat kebudayaan serta tetap mencipta karya yang berbudaya. Amin.

--------------

Jabbar Abdullah, Pegiat Komunitas Lembah Pring Biro Mojokerto dan Pendiri Paguyuban Ludruk Karya Budaya Mojokerto (PaLu-KB) di Facebook.

Sabtu, 23 Mei 2009

Adakah Sastra di Mojokerto?


Sumber: Radar Mojokerto, Minggu 10 Mei 2009

Adakah Sastra di Mojokerto?

Oleh: Jabbar Abdullah*


Jujur saja, sebenarnya judul di atas agak riskan jika dimunculkan ke permukaan. Namun, “keriskanan” itu akan sedikit berkurang manakala para pemerhati dan pelaku sastra di Mojokerto benar-benar mengetahui nasib sastra di Mojokerto yang mengalami “kesuwungan” dalam sisi aktifitasnya. Dalam catatan penulis, aktifitas sastra paling mutakhir di Mojokerto terjadi 2 bulan lalu (21/3), yakni saat komunitas Rabo Sore dari Universitas Negeri Surabaya yang menggelar workshop Kepenulisan Sastra yang bertempat di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Mojokerto, itupun dikhususkan untuk para guru Bahasa Indonesia saja. Padahal kalau dirunut kembali ke belakang, aktifitas sastra di Mojokerto semenjak menginjak tahun 2009 “nyaris tak terdengar”.

Mengawali evaluasi gerak sastra di Mojokerto, ada satu renungan menarik dari seorang kawan bernama Hadi Sucipto ketika “bertemu” dengan penulis di facebook. Cak Cip (panggilan akrab Hadi Sucipto), teringat ucapan kawannya dari Desa Temulus-Randublatung-Blora
namanya Pak Rukito. Ucapan kawannya itu dikirimkan ke kotak pesan saya, “Kita perlu membumikan teks tentang kesederhanaan, kemandirian, kejujuran, kerja kolektif dan keberanian... atau harus ada yang diperbuat demi masa depan? Maka sebelum hari ini berakhir, haruskah ada yang tinggal menjadi kenangan atau hanya jejak masa..?” begitu bunyi pesannya.

Pesan dari Cak Cip yang mengutip perkataan dari Pak Rukito di atas agaknya relevan dengan kondisi sastra di Mojokerto yang redup tapi tak mati. Seperti yang penulis katakan di awal, bahwa aktivitas sastra di Mojokerto selama tahun 2009 memang nyaris tidak ada gaungnya. Kalaupun ada, maka tak kurang dan tak lebih hanya sekadar “ide”. Nah, jawaban atas pertanyaan di sekitar gerak sastra atau gerak seni-budaya Mojokerto pada umumnya pada awal tahun 2009 agaknya dapat dilacak melalui peristiwa sarasehan sastra yang bertema Menapak Jejak Si Binatang Jalang, seminggu yang lalu atau tepatnya pada tanggal 2 Mei 2009. Di sini penulis hendak menegaskan, bahwa pengadaan acara diskusi sastra tersebut oleh Komunitas Sastra Mojokerto (penyelenggara) dimaksudkan untuk ”menguji” seberapa besar apresiasi umat kebudayaan Mojokerto (terutama kaum sastra) terhadap kegiatan sastra dan sekaligus juga ingin membuktikan seberapa kuat ”denyut” sastra itu sendiri di Mojokerto.

Terkait dengan ”ide” di atas, muncul lagi pertanyaan, adakah wadah untuk menampung ide kreatif para seniman tersebut? Jika yang menjadi wadah adalah sebuah lembaga semacam Dewan Kesenian, maka pertanyaannya, sejauhmana Dewan Kesenian tersebut mampu menjalankan peran dan fungsinya secara kongkrit? Jawabannya tentu saja tidak semudah berkata-kata. Namun apapun jawabannya, sepatutnya antara seniman dengan Dewan Kesenian, sebelum saling bersepakat untuk berjalan bersama-sama membangun kesenian dan kebudayaan, hendaknya saling bertemu untuk menjaring aspirasi serta menyatukan visi-misi terkait dengan gerak berkesenian dan gerak berkebudayaan. Menurut penulis, bagian terpenting dari itu semua adalah kesadaran untuk menjaga sikap steril (tidak condong kemana-mana) agar tidak melahirkan kecemburuan. Sikap steril juga dibutuhkan untuk menjaga lahirnya ”prasangka” atau ”stempel” bahwa ”ini” dan ”itu” adalah milik .....? Satu hal yang juga patut menjadi bahan pertimbangan adalah sudah saatnya mereorientasi gerak berkesenian, dari individual menuju kolektifitas (baca: pengabdian) dengan senantiasa berpijak pada asas manfaat.

Alhamdulillah. Akhirnya kegelisahan itu terjawab dengan berduyun-duyunnya apresiator dari segala lini seni-budaya – baik dari seniman tradisi, perupa, seniman teater maupun dari pegiat sastra sendiri –, bahkan acara diskusi lesehan itu dibuka langsung oleh Bapak Afandi selaku Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Mojokerto. Menariknya lagi, beliau bersama beberapa jajarannya, Pak Rejo dan Pak Budi, turut larut dalam kegayengan sarasehan sastra yang secara bersamaan juga menyajikan pentas monolog oleh Dian Sulaturrahman dari Teater Institut Surabaya serta musikalisasi puisi. Acara yang dimoderatori oleh Cak Chamim Kohari (Penyair Pesantren) dan berdurasi hampir 3 jam-an tersebut mengundang dua nara sumber, masing-masing adalah Fahrudin Nasrulloh (Cerpenis dan Pegiat Komunitas Lembah Pring Jombang) dan Didik Wahyudi (Biro Sastra Dewan Kesenian Surabaya).

Dalam diskusi tersebut, terjadi dialektika yang menarik antara dua nara sumber dengan para apresiatornya terkait dengan ”mengenang” yang lampau. Fahrudin Nasrulloh, dengan makalahnya yang berjudul “Hari-hari Akhir Si Binatang Jalang”, dengan tegas mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang baru dari peristiwa mengenang. Namun yang perlu dipertanyakan adalah apa yang bisa disumbangsihkan oleh penyair dalam arus besar sastra Indonesia saat ini, terlebih saat berjalan beriringan dengan arus perpolitikan yang arusnya juga tak kalah besar, bahkan bisa jadi lebih mengerikan, lanjut Fahrudin, Cerpenis asal Jombang. Nara sumber lainnya, Didik Wahyudi, selaras dengan makalahnya yang berjudul ”Vox '45” menambahkan, dalam kondisi seperti ini penyair dituntut meluangkan waktunya untuk turut memperhatikan (paling tidak) kondisi politik di tempat mereka berproses kreatif. Karena lingkungan secara tidak langsung turut memberikan warna dalam karya yang dilahirkannya. Yang sempat menjadi pro-kontra terkait dengan politik adalah apakah seorang seniman juga harus berpolitik (seniman politik) atau cukup hanya berperan sebagai kritikus saja melalui karya-karyanya? Atau bikin partai seniman?

Adapun tamu lainnya yang hadir adalah Cak Edy Karya (Pimp. Ludruk Karya Budaya), Pak Koesen LD (Perupa dan Pengasuh Padepokan Bumi Pakarti Aji, Pacet), Hadi Sucipto (Perupa dan Guru SMAN I Gondang) dan istri, Ibu Umi Salamah (Guru Bahasa Indonesia SMAN 3 Kota Mojokerto), Aming Aminoeddin dan AF Tuasikal (Penyair Surabaya), Timur Budi Raja (Penyair asal Sumenep), Saiful Bakri (Penyair Buruh dan Biro Sastra Dewan Kesenian Kota Mojokerto), M. Misbach (Biro Teater Dewan Kesenian Kota Mojokerto), Bagus Mahayasa bersama beberapa anggota LAF, HMP Bahtra STKIP PGRI Jombang dan Komunitas Teater Ringin Conthong Jombang, Inswiardi (Pegiat teater), santri dan santriwati Ponpes Darul Falah Jeruk Macan-Gedeg, Suliadi (Komunitas Umpak Songo), Komunitas Sastra Pondok Kopi (Kiki Efendi, Jr Dosomuko dan Dadang Ari Murtono), Akhmad Fathoni (Komunitas Arek Japan), Komunitas Lembah Biru, Galuh Mutiaraningratri (siswi SMAN 3 Kota Mojokerto) serta Pak Djito (Pengasuh Padepokan Akar Mojo, Pacet). Nyaris semua tamu (terutama penyair) yang hadir sangat antusias untuk berekspresi dengan membacakan puisi Chairil Anwar dan beberapa karya puisi mereka sendiri. Baca puisi bersama itu semakin lengkap ketika Komunitas Musik Country Girilaja dengan Lidhie Art Forum berkolaborasi memusikalisasikan puisinya Charil Anwar yang berjudul Persetujuan Dengan Bung Karno (dilantunkan oleh Buyung Akhirul Akbarm) dan Kesabaran yang disuarakan oleh Gandis Uka.

Rasanya tidak berlebihan jika penulis mengabadikan acara diskusi sastra sederhana namun sarat makna itu dalam satu kalimat, yaitu malam seribu sastra. Pada malam itu juga terbuktikan bahwa ada sastra di Mojokerto. Sebagai penutup, penulis akan mengutip ujaran seorang guru ngaji yang selalu mengawali kegiatan ngajinya dengan berucap, “Ketika datang sebuah kebenaran (dari arah manapun), maka yang terjadi dua hal, yaitu ketersinggungan dan ketersentuhan.”


--------------------
* Jabbar Abdullah, Pegiat Komunitas Lembah Pring Biro Mojokerto dan Komunitas Sastra Mojokerto dan Forasamo.

Komunitas Musik Country Girilaja Mojokerto

Logo Komunitas Lembah Pring Jombang

Logo Komunitas Lembah Pring Jombang
Design by: Fahrudin Nasrulloh dan Samsul Nanggalrek