Jumat, 03 April 2009

Pentas Monolog


Ketika Pohon Tidak Berakar


Oleh : Jabbar Abdullah

(Pegiat Komunitas Sastra Lembah Pring Biro Mojokerto)


Hidup tanpa rintangan (ujian) bukanlah hidup yang sebenarnya, seseorang harus hidup dengan api di bawah kakinya. (Muhammad Iqbal)


Seorang laki-laki setengah baya dengan langkah gontai memasuki ruang berlampu remang. Raut wajahnya kusam. Sorot matanya gelisah bercampur ketakutan. Kelihatannya dia menyimpan “sakit” yang dalam. Entah, “sakit” apa yang dirasakannya. Tak ada yang benar-benar tahu selain dirinya sendiri. Pada kedua pundaknya bergelantung dua sosok mayat yang tak lain adalah anak dan istrinya tercinta. Kecintaan yang berlebihan pada anak dan istrinya membuat laki-laki itu tidak segera dapat menerima “kunjungan” kematian yang tiba-tiba. “Kenapa kematian begitu kejamnya menghancurkan surga kami”, keluh si tokoh sembari duduk di sebelah mayat istri dan anaknya.

Sepotong narasi di atas adalah kisah dalam naskah monolog berjudul “Pohon Tanpa Akar” karya Maila yang pernah dipentaskan di Medan, 10 Maret 2005. Sedangkan si tokoh diperankan oleh Andrei Wibowo atau yang akrab dipanggil Andrei “Brengos”.

Pada intinya, naskah monolog “Pohon Tanpa Akar” berkisah tentang seorang lelaki malang yang mengalami kekecewaan dan pengkhianatan. Orang-orang kepercayaannya semasa masih berjaya, satu persatu menjauh dan pergi meninggalkannya. Dengan kata lain, si tokoh mengalami kebangkrutan dalam hidup. Harta, jabatan, teman bahkan istri dan anaknya silih berganti “pergi” meninggalkannya. Namun semua itu dianggapnya sabagai ujian yang akan dialami oleh siapapun yang hidup. Karena itulah, si tokoh yang pada awalnya mengeluh dan meratap-ratap, perlahan tapi pasti kembali bangkit. Ujian itu dijadikannya bahan renungan yang mendalam. “Bagaimanapun, hukum sebab akibat tetap berlaku dalam masalah ini”, katanya.

Andrei “Brengos”, yang saat ini tinggal di Jl. Benteng Pancasila No. 28 juga pernah mementaskan beberapa naskah lain. Di antaranya, naskah “Wabah” karya Hanindawan, “Siklus” karya Rony Bolot, “Bendera Setengah Tangkai” dan “Sisi Gelap kamar Yuli” gubahan Bagus Mahayasa (Lidhie Art Forum). “Untuk saat ini, naskah monolog “Pohon Tanpa Akar” yang saya pentaskan kemarin di STIKES Dian Husada Jabon bersama teman-teman Teater Aprodit adalah last but not least, terakhir tapi bukan yang terakhir”, terang pria kelahiran Mojokerto, 22 Januari 1972.

Satu pesan moral dalam naskah monolog “Pohon Tanpa Akar” yang dapat dijadikan sebagai satu bahan renungan bersama adalah bahwa kita baru dapat merasakan nilai hakiki dari segala yang ada dan yang kita miliki (harta, jabatan dan istri serta anak) saat semua yang ada dan yang telah kita anggap sebagai milik kita satu-persatu telah pergi dengan segala sebabnya, dan kematian adalah sebab yang tak seorangpun dapat menduganya. Kematian datang dari arah yang tidak pernah kita duga. “Cukuplah kematian sebagai pengingat”, begitulah peringatan-Nya.

Seni Budaya


Arief Zulkornen, Tukang Jahit Kitab dari Kampung Mercon

Tetap Bertahan Melestarikan Tradisi Penjilidan Manual


Oleh: Fahrudin Nasrulloh

(Pegiat Komunitas Lembah Pring Jombang)


JOMBANG – Di tengah industri penjilidan ala modern, sosok Arief Zulkornen merupakan keajaiban kecil di tengah gemuruh industri di Jombang yang umumnya berorientasi pada keuntungan besar. “Saya hanya melakoni wasiat abah saya untuk terus melanjutkan usaha penjilidan ini,” demikian tuturnya, pada Senin sore, 25 Agustus 2008. Bapaknya, Pak Zulkornen yang kelahiran 1956 di Rembang itu, semula nyantri di Pondok Tebuireng pada jaman Gus Kholik (kakak Kiai Yusuf Hasyim), putra KH. Hasyim Asy’ari. Kemudian ia menikah dan menetap Kampung Keras, Desa Keras, Kecamatan Diwek.


“Sebelumnya, bapak saya belajar pada Pak Halimi. Tapi orang yang paling awal memulai penjilidan manual ini adalah Pak Dawam, santrinya Mbah Hasyim,” tambah Arief yang menekuni bidang unik ini sejak 1993, di usia 17 tahun. Usaha bapaknya dimulai tahun 70-an sampai 2005. Order Pak Zul, semula dirintis dari pondok ke pondok, karena relasi belum luas. Seperti dari Pondok Gontor sampai Mojokerto, Lirboyo hingga hampir pelanggannya pernah dari seluruh Jawa Timur. Waktu itu ia sempat dibantu adiknya, Kamaluddin. “Dulu pernah abah punya 4 karyawan, setelah dapat order dari Kiai Zainal dari sebuah pesantren di Ngoro, dengan orderan sekitar 100 jilidan sebulan, mulai tahun 80-an sampai 1997. Mereka pesan nyetak Al-Qur’an ke Penerbit Toha Putra dalam bentuk sudah jahitan, lalu diserahkan pada kami untuk dijilid,” kenang Arief sembari memandangi foto abahnya di dinding ruang tamunya. Sementara order jilidan terbanyak dari para santri di sekitar Tebuireng.


Usaha ini kemudian agak merosot di tahun 1995 hingga 1997, ketika penjilidan modern mulai berkembang pesat. Terlebih pada 2005, saat Pak Zul meninggal dan Arief musti meneruskan amanatnya tersebut.


Proses penjilidan manual ini kelihatannya sederhana. Tapi hasilnya cukup memuaskan. Jahitan manual dapat diuji dan lebih kuat serta tahan lama puluhan tahun dibanding hasil jilidan pada umumnya. Juga cara penyampulan dan pengelemannya. Yang pasti hasil kerjanya lebih indah dan cantik serta membikin pembaca kian mencintai buku yang sebelumnya robek-robek atau mbrodol. Arief melayani mulai dari penjilidan buku, kitab, majalah, dan koran. Caranya pertama: diurutkan nomornya, dijahit, dilem, dikeringkan, dipotong, lalu dirapikan. Rincian bahannya: karton, kertas, lem rajawali, benang bol, dan lem latex. Sementara alat-alat yang digunakannya berupa gunting kuno, pres besi lawas, penjepit antik, gaman pemotong, bor baja pilihan, pisau penghalus, dan jarum penjahit.


Saat ini langganan yang terbilang tetap ada dua: H. Syafiq Munawwar (dari Perpustakaan Darul Ilmi Ponpes Al-Munawwar Sidayu Gresik); Perpustakaan Ponpes Wahid Hasyim Tebuireng yang sejak 20-an tahun lalu dipasrah-kelolakan pada Pak Zainal dan dibantu oleh Mas Tamrin. “Pernah ada juga yang njilid ke sini, sekitar tahun 1998, yaitu perpustakaan KUA Kertosono. Karena, kata mereka, hasilnya bagus sekali. Terbukti kemudian, KUA ini memeroleh juara tingkat karesidenan Kediri. Hingga kepala KUA-nya saat itu di-haji-kan. Sejak itu, hampir seluruh KUA Kota Kediri juga njilid ke sini,” papar Arief.


Harga penjilidan tergantung ukurannya. Rata-rata, untuk ukuran koran 20 ribu, majalah 15 ribu, dan buku 13 ribu. Ketika ditanya kenapa ia masih berkeyakinan untuk tetap meneruskan usaha ini, ia menjawab, “Jilid-menjilid itu merupakan karya seni. Nilai artistiknya ya pasti kepuasan yang susah diungkapkan. Dari sesutu yang amburadul menjadi rapi kembali. Pelanggan puas, saya bahagia. Intinya, memuaskan orang itu kan juga berpahala.”


Ia juga pembaca berat semua jenis buku. Bahwa yang njilid di tempatnya berasal dari berbagai macam orang dalam bentuk jenis buku yang berbeda-beda pula. Ia bercerita soal pengalaman abahnya, “Pas jamannya abah, ada orang suruhan Kiai Syamsuri dari Tebuireng untuk menjilidkan kitabnya. Beberapa jilid kitab kuning, cetakan Penerbit Beirut, lawas sekali. Isinya tentang tafsir, seingat saya. Kitab tersebut katanya waktu itu seharga seekor kambing.”


Pengalaman Arief yang paling berkesan adalah ketika datang order jilidan berupa akte nikah dari jaman Belanda, ejaan lama, dari kantor KUA Kertosono. “Masya Allah, susahnya amit-amit, saya keringetan pas njilidnya. Soalnya kan kertasnya sudah sangat tua. Jadi motongnya harus hati-hati sekali,” ceritanya bersemangat sambil menyruput kopi-jahe panasnya. Dalam lima bulan belakangan ia menerima order cukup menumpuk dari seorang penulis asal Mojokuripan berupa buku-buku sastra lawas, naskah Jawa kuno, komik-komik, dan cerita silat. Uniknya, penulis ini, saking salutnya, seringkali langsung bayar sebelum jilidannya selesai.


Ia berharap dapat terus ngopeni penjilidan ini, entah sampai kapan. Ia pun membayangkan usahanya dapat lebih maju dan berkembang plus bertambah langganan. “Sebenarnya butuh rekan satu atau dua. Tapi saya belum bisa bayar secara pantas. Dan keterampilan ini kan butuh kesabaran dan ketelatenan. Jadi jarang ada yang mau gabung. Yang belum bisa saya punya cuma mesin potong besar. Ya, agar tidak riwa-riwi ke kota Jombang untuk motong,” begitu pungkasnya.


Rebung Lembah Pring


Gerakan Literasi di Taman Baca Masriyatul Ilmi


Fahrudin Nasrulloh*


Sejauh mana tradisi literasi atau budaya membaca dan menulis bagi anak-anak dapat ditumbuhkan di Jombang? Barangkali hanya beberapa gelintir yang ada di kota santri ini. Salah satunya adalah Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Masriyatul Ilmi di Keboan, Ngusikan, Jombang, yang diasuh oleh Nanik Masriyah dan Lilik Zaenab.

Sehubungan dengan itu, sejumlah pegiat dari Komunitas Lembah Pring (KLP) Jombang, yang diketuai Jabbar Abdullah, mengunjungi TBM ini pada Minggu, 1 Maret 2009. Selain bergiat di dunia sastra-budaya, KLP juga mengembangkan jaringan dengan berbagai pihak untuk membudayakan tradisi literasi. Inspirasi ini ditimba saat KLP mengikuti even Ode Kampung 3 di Komunitas Rumah Dunia-nya novelis Gola Gong, di Serang, Banten, pada akhir Desember 2008.

TBM Masriyatul Ilmi secara terbuka didirikan Nanik Masriyah pada 1 Januari 2008, meski sebelumnya TBM ini secara non-formal telah ramai dikunjungi sejak sekitar tahun 2000. Bu Nanik, yang juga adalah guru di SMPN Kudu ini, sebenarnya sudah lama bercita-cita bagaimana minat membaca dan menulis ditanamkan sejak dini pada anak. Semenjak 2006, ia juga dibantu dua saudaranya: Muji Murnining Ati dan Mentrik Sulih Puji Rahayu, untuk memasyarakatkan TBM ini yang pada mulanya hanya semacam kelompok belajar biasa.

Jumlah anak-anak yang menjadi anggota resmi adalah 301 anak. Namun jika ditotal secara keseluruhan bisa mencapai 600-an anak. Tiap sore TBM ini berjubel dikunjungi, terutama pas hari Minggu. Bu Nanik, yang alumnus 1993 Sastra Indonesia Universitas Wijaya Kusuma Surabaya ini, sangat terkesan dan menimba inspirasi langsung dari tradisi membaca masyarakat Jepang di mana pada 1994 ia terpilih menjadi salah satu (dari 27 orang/propinsi) peserta Pemuda Karang Taruna (bidang agrikultura) se-Indonesia untuk studi banding ke negeri Samurai itu selama 11 bulan. Juga, di negeri yang sama, pada 1998, ia termasuk dari 3 peserta yang mewakili Indonesia untuk mengikuti semacam “pelatihan pendampingan” bagi ibu-ibu berprestasi di Indonesia.

TBM Masriyatul Ilmi dapat menjadi percontohan, dengan bukti nyata bagaimana tradisi membaca bisa menjadi suatu “Gerakan Literasi” bahkan di kampung kecil seperti Keboan. Rata-rata mereka berasal dari anak-anak SD, SMP, dan SMA, yang bersekolah di Kudu, Ngusikan, Gedeg, dan Ploso. Semangat dan minat besar mereka terus berkembang pesat di mana para pembinanya juga menyuport dan berupaya terus menambah bahan bacaan. “Yang paling ramai, mereka mengunjungi TBM ketika masa libur sekolah. Bahkan kami sempat bingung campur bangga saat koleksi perpustakaan kami ludes dipinjam,” cerita Bu Zaenab. “Karena itu, kami kerap pula merogoh kocek sendiri untuk menambah koleksi perpus kami,” tambah Bu Nanik.

TBM ini terbuka untuk umum di waktu sore mulai pukul 15.00-17.00 WIB di hari Senin-Sabtu, dan pada Minggu atau hari libur nasional mulai pukul 08.00-13.00 sampai 15.00-17.00 WIB. Sejumlah buku yang paling diminati anak-anak di TBM Masriyatul Ilmi adalah tetralogi Andrea Hirata, cerita detektif Conan, novel Ayat-ayat Cinta, cerita bergambar, dan puluhan fiksi islami remaja maupun dewasa.


Dalam kesempatan itu, ketua KLP Jabbar Abdullah, menyerahkan cinderamata berupa 1 novel berjudul Dunia Kecil karya A. Syauqi Sumbawi, beberapa buletin komunitas, dan Peta Ibu Kota Majapahit yang dikopi-ulang dari buku babon Bukti-bukti Kejayaan Majapahit Muncul Kembali (penyusun Prof. Moendardjito dkk). KLP juga akan mengupayakan bagi TBM ini (juga TBM-TBM lain di Jombang) untuk mendapatkan sumbangan bahan bacaan dengan membuka jaringan ke banyak pihak, baik dari perorangan, penerbit, komunitas literasi, maupun dari instansi terkait. “Kunjungan KLP kali ini cukup berkesan, mereka akan membantu kami secara berkala, terutama dalam hal pengembangan mading, suplai buku, jurnalistik, dan pelatihan bercerita dan menulis cerita,” tutur Bu Nanik.


Dua hari kemudian, 3 Maret 2009, KLP telah mengantongi donator buku dari penerbit Pustaka Pujangga, Lamongan. Direktur penerbit ini, Nurel Javissyarqi, menyumbang 18 buku dan 3 jurnal kebudayaan The Sandour. TBM Masriyatul Ilmi sangat berterima kasih atas sokongan yang tak disangka-sangka tersebut. “Kami juga terbuka bagi penyumbang buku lain. Dan kami berharap TBM lain juga sama-sama bergeraka seperti kami,” pungkas Bu Zaenab.

--------

*Fahrudin Nasrulloh, pegiat Komunitas Lembah Pring Jombang

Jumat, 27 Maret 2009

Seni Budaya Jombang

Riwayat Jaran Dor Jombangan

Oleh: Siti Sa’adah*


Kesenian tradisional jaran dor sudah ada di Jombang sejak masa penjajahan Belanda. Pada tahun 1925 berdirilah grup jaran dor di Desa Kemambang, Diwek, beranggotakan 14 orang. Saat ini, dari sejumlah itu, hanya tersisa satu, yaitu Yasmo (usia 106 tahun) warga Desa Jatirejo Barat.

Jaran dor merupakan kesenian tradisional Kuda Lumping asli Jombang. Perbedaan yang kentara dengan jaranan lain dan menjadi ciri khasnya adalah alat musik jidor yang saat ditabuh berbunyi dor, sehingga jaranan ini di sebut jaran dor. Adapun alat musik selain jidor adalah kendang dan sepasang kimplung yang terdiri dari tiga biji dengan ukuran berbeda. Satu yang berukuran besar di sebut thong, dan yang kecil disebut ketipung. Sekarang, alat musik jaran dor di tambah gong peking saron ketuk kenong atau biasa di sebut dengan gamelan.

Jaran dor ditampilkan dengan beberapa tari pengiring, yang sekarang ditambah dengan tari bantengan. Urutan penampilannya adalah tari bapangan, tari jaranan khas Jombang, tari topeng atau tari humor, tari jepaplok dan ditutup dengan tari bantengan.

Tari Bapangan

Dulu tari bapangan di sebut tari pentulan, karena topeng yang di pakai penari berhidung sangat besar, mentul, bermata bulat dengan rambut, alis dan kumis menjuntai ke bawah yang terbuat dari surai buntut sapi.

Tari Jaranan Khas Jombang

Tari jaran dor lebih mengarah untuk kesenangan atau hobi, tidak seperti jaranan lain seperti semboyo yang memang sengaja dirancang untuk pementasan dengan kemasan cukup rapi. Sehingga penampilan para penari jaran dor terkesan apa adanya dan gerak para penarinya pun tidak seperti jaranan lain. Tari jaran dor banyak dipengaruhi oleh pencak silat, karena kebanyakan para penari jaranan adalah pendekar silat.

Penari jaran dor dulu hanya lelaki, tidak seperti sekarang yang ditampilkan oleh penari lelaki dan perempuan, berkaos belang horisontal warna merah putih atau merah hitam, dilapisi baju warna hitam lengan panjang, celana pendek berpleret merah, berkopyah dengan sarung diikatkan pinggang, tanpa gongseng atau kerincingan kaki seperti pada penari semboyo. Saat ini pakaian penari banyak berubah, tergantung selera grup jaranan masing-masing.

Kuda Lumping yang digunakan dalam jaran dor berbeda dengan kudalumping yang digunakan dalam semboyo. Ekor kudalumping jaran dor berbentuk melengkung sedangkan semboyo berujung lancip. Penari kudalumping membawa panthek: sebilah potongan bambu dengan panjang sekisar satu meter. Saat ini penari membawa cambuk, adapula yang sudah dari dulu membawa cambuk. Mulanya tari jaranan hanya diiringi musik dari kendang, kimplung dan jidor, tanpa iringan gendhing-lagu, selanjutnya diiringi gendhing Ijo-ijo dan Suwe Ora Jamu. Saat ini banyak jaran dor diiringi lagu dangdut dan campur sari.

Tari Jepaplok

Disebut tari jepaplok karena mulut dari kepala hewan, terbuat dari kayu, yang mirip dengan kepala naga ini bisa membuka menutup seperti hendak mencaplok. Di bagian belakang terdapat kayu pegangan yang digunakan untuk mengendalikannya. Satu pegangan dipangkal rahang dan yang satu lagi menyatu dengan bagian atas. Pangkal pertemuan kepala dan rahang ini terdapat engsel yang memungkinkan rahang digerakkan naik turun seperti handak mencaplok dan menghasilkan bunyi plok-plok. Kepala hewan ini diikatkan pada kepala, kedua tangan penari menahan dan mengendalikannya. Dari dulu sampai sekarang nama dan bentuk jepaplokan tetap sama.

Tari Bantengan

Mulanya tidak ada bantengan dalam jaran dor, sekarang tari bantengan ditampilkan untuk menutup pertunjukan di mana penari menari dengan topeng kepala banteng.

Tukang Gambuh

Puncak penampilan semua penari di atas ada di tangan tukang gambuh atau yang dikenal dengan pawang. Sebelum tampil pawang harus membakar perapen atau kemenyan untuk mendatangkan perewangan. Pawang berdoa agar saat menampilkan perewangan jangan sampai ada gangguan. Pawang mendampingi penari beraksi dengang membawa cambuk yang berfungsi untuk memasukkan perewangan ke dalam diri penari juga untuk memulihkan kesadaran. Jumlah pawang dalam setiap pertunjukan biasanya bisa mencapai empat orang. Seorang pawang harus mampu seni bela diri dan memiliki keahlian tersendiri yang didapat dengan tirakat.

Saat ndadi (kesurupan), penari akan menuruti semua perintah pawang, dan seorang pawang mampu membaca seberapa besar kemampuan penari untuk ndadi, karena saat ndadi sudah menyangkut keselamatan penari juga para penonton. Sandingan khas yang di makan penari jaran dor maupun tari lainnya adalah dedak. Adapula bunga, rumput, dan pisang. Penari memakan barang berbahaya seperti beling, jika sebelumnya telah diminta penanggap.

Sesaji jaran dor ini seperti tikar baru dari pandan, sisir, kipas, beras, pisang satu tangkep (dua sisir), tampah, dedak, minyak wangi, beras kuning, kelapa utuh, ayam, dawet, kemenyan, kluwek, bumbu-bumbu dapur, dan masih banyak lagi. Jika kelengkapan sesaji tidak terpenuhi, maka akan sangat mengkhawatirkan penampilan jaran dor, khususnya saat ndadi.

Jaran dor saat ini banyak mengalami perubahan, baik alat musik, pakaian maupun tarinya. Ini terjadi karena ada kecenderungan permintaan masyarakat untuk menampilkan jaranan beserta musik dangdut dan campur sari. Sehinggan banyak mucul jaranan campur sari versi Jombangan yang berpengaruh pula pada penambahan alat musik seperti drum, keyboard, dan simbal.

Selain Yasmo di atas, beberapa orang yang masih bersetia dalam pelestarian seni jaran dor ini adalah Harjo Suyitno (pimpinan grup kudalumping Bunga Sejati, Mojowangi, Mojowarno), Subur (pawang grup kudalumping Turonggo Pudak Arum Pandanwangi, Desa Kwaron), Karsiadi atau Mbah Kempong (Pimpinan grup kudalumping Turonggo Cahaya Muda, di Sukomulyo, Blimbing, Gudo).


---------

*Siti Sa’adah, anggota tim Pelestari dan Perlindungan Seni-Budaya Jombang


Rabu, 25 Maret 2009


Aku Hendak Pulang

perjalananku sebentar lagi usai

sebelum waktuku tiba
aku ingin berlama-lama membacamu
bukan kebetulan aku dipersuakan denganmu

kalau mau, tinggallah beberapa jam di ingatanku
saat aku terlelap kau boleh meninggalkanku
lebih baik begitu
lebih baik aku tak tahu kepergianmu
daripada aku tahu
sementara aku tahu kalau aku tak bisa
menghapusmu dari benakku

Komunitas Musik Country Girilaja Mojokerto

Logo Komunitas Lembah Pring Jombang

Logo Komunitas Lembah Pring Jombang
Design by: Fahrudin Nasrulloh dan Samsul Nanggalrek