Jumat, 03 April 2009

Cerpenku

Cerpen Jabbar Abdullah


Secangkir Kisah di Warkop Santren

Suara bising mobil, bus, dan sepeda motor seakan menjadi lagu wajib yang sering mengiringi para pecandu kafein di warkop Santren. Pun teriakan para calo yang sejak subuh nggelibet di trotoar mengamati bis-bis jurusan Surabaya. Para calo ini memeroleh 1000 atau 500 rupiah per penumpang dari kondektur. Gemuruh riuh keseharian demikian bak playlist dalam winamp komputer yang kerap ngancani dan menghiburku ketimbang nada-nada setan di rumah jahanamku.

***

Boyo… boyo… boyo…,” teriak Robert dan Marwan saat bis Sumber Kencono berhenti di pertigaan pasar Brangkal.

Robert dan Marwan ibarat bebunga trotoar di tepi jalan. Keduanya adalah sahabat karib. Saban hari mereka mangkal di depan warkopku. Selain nyalo, mereka juga pengamen dan pengasong. Kondisi ekonomi keluarga yang tak menentu menjadi alasan kuat ketika mereka memutuskan menempuh jalan itu.

Meskipun bernada suara fals, Marwan tetap enjoy menghibur penumpang bus meski sebagian dari mereka tidur dengan lagu-lagu bajakan beriring petikan gitar yang dibelinya dari pegadaian hasil jerih payahnya menabung. Kompilasi lagu Iwan Fals kebanyakan bertema kritik sosial, semacam Bongkar, Bento, Guru Oemar Bakrie, Orang Pinggiran dan Terminal lebih dipilihnya sebagai tembang keseharian ketimbang lagu-lagu anak band “karbitan” yang cengeng dan bertema cinta melulu. Rentetan bus yang berseliweran dijadikan panggung oleh Marwan untuk beraksi. Sejak kutanggalkan atributku sebagai penjual kopi, aku tak lagi menyaksikan aksi-aksinya di jalanan atau kepiawaiannya memetik senar gitar hingga menjadi alunan lagu yang terasa nikmat didengar. Warta terakhir yang hinggap di kupingku, tepatnya semenjak bapaknya mati akibat serangan jantung, dia menggeluti belantara dunia kriminal bersama teman lawasnya saat masih menjadi pengamen terminalan yang bermuara dengan meringkuk di balik jeruji akibat delik curanmor yang dilakukannya di luar kota akhir Desember lalu.

Sementara di tempat lain, Robert juga melakoni perannya yang lain dengan istiqamah sebagai pedagang asongan spesialis soft drink. Nasibnya tak jauh beda dengan karibnya Marwan. Bedanya, meski kekangan kondisi ekonomi yang tak kunjung berubah, tidak sekalipun terbersit dalam benaknya untuk melangsungkan tindakan kriminal seperti yang dilakukan Marwan. Di mataku, Robert bukanlah sosok yang mudah frustasi kala digempur cobaan meski modal pengetahuan agamanya nihil dan masih hobi kencing di pojok pasar. Dia masih lebih baik dibanding orang-orang yang ber-amar makruf nahi munkar dengan menjadikan agama sebagai masker dan menjual ayat-ayat Tuhannya demi meraup duniawi yang dibungkus dengan basa-basi dan iming-iming surga di atas mimbar. Bukankah mereka tahu bahwa kemarahan terbesar Tuhan adalah kepada orang-orang yang suka berkoar-koar tapi tak pernah memanifestasikannya dalam perbuatan nyata. Ah, sudahlah. Ngapain juga aku mikirin aksi “mafia-mafia agama” itu. Mending mikir hidupku yang monoton dan masih absurd ini.

***

Suatu hari, saat aku masih aktif sebagai penjual kopi, sepulang menjajakan soft drinknya Robert menghampiriku yang sedang asik membaca rubrik olahraga di koran Jawa Pos.


“Bar. Aku ingin sembahyang. Kira-kira kamu punya sarung dan sajadah lebih tidak?” Tanya Robert padaku sembari mengusap peluh di dahinya.

“Tumben banget dia bertanya seperti itu.” bisik hatiku mendengar pertanyaan langka dari seorang Robert.

“Insya Allah, besok tak bawakan. Yang penting kamu sungguh-sungguh dengan niatmu”. Jawabku.

Satu tanya perihal alasan bagaimana Robert mampu sampai pada tingkat kesadaran untuk kembali meniti sirath al-mustaqim hingga saat ini belum terjawab. Wallahu a’lam.

***

Selain berjualan kopi, aktifitasku yang lain adalah jangopji (jagongan, ngopi dan ngaji). Saat tak berjualan aku seringkali jagongan ke toko kain Bang Yon yang berdiri gagah di seberang warkopku. Konon, sebelum mendirikan toko kain Bang Yon pernah keblubuk dan terseret bujukan perek. Dalam sebagian sejarah hidupnya, “dunia daging” (sebutanku untuk PSK) memang nyaris selalu digelutinya, begitu pengakuannya saat ngobrol-ngobrol di tokonya. Bangunan rumah tangganya luluh lantak lantaran isterinya konangan sedang bercumbuan dengan Wak Kaji di bibir sungai Brantas saat dia melintas hendak mampir ke rumahku. Syahdan, tanpa muqaddimah, lelaki yang sedang mencumbu istrinya itu dipermak dengan bogeman bertubi-tubi hingga terselungkup dan terkapar di jalan. Usut punya usut, ternyata lelaki yang membandang istrinya itu adalah seorang ustadz. Sejak peristiwa aib itu Bang Yon yang terkenal tangguh, mendadak oleng bak mobil yang remnya blong dan selinglung pasien rumah sakit jiwa di mana nyaris waktunya dihabiskan dengan menggeluti “dunia daging”, menenggak alkohol dan nogel. Ironis sekali.

Bang Yon adalah pelanggan tetapku saat warkopku masih aktif. Karena warkopku sistemnya non stop, dia seringkali mampir pada jam tengah malam atau jelang subuh. Bila warungku sepi pengunjung dia mengajakku sharing perihal kehidupannya yang carut marut. Di sela-sela aku menyimak rentetan cerita tragedi rumah tangganya, terbersit dalam benakku untuk memberikan solusi atas ketidakmampuannya menjawab problematika hidup yang menghinggapinya. Aku teringat wejangan pamanku yang mengatakan bahwa jawaban atas persoalan hidup kadangkala terjawab saat kita masih hidup dan kerugian sekaligus kecelakaanlah bagi mereka yang menemukan jawabannya setelah ia mati. Sekali lagi, ironis.

Rasa sungkan yang menghalangiku untuk memberi solusi pada Bang Yon tidak membuatku berhenti untuk membantunya keluar dari kubangan kemaksiatan yang dalam pandangan agama sudah kelewat batas. Aku meminjaminya sebuah buku berlambar “La Tahzan” karya ‘Aidh al-Qarni. Dalam buku itu kuselipkan sebuah surat yang berbunyi:


Dari Kawanmu Jabbar :

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Sesungguhnya ketika Allah menimpakan ujian dan cobaan dalam segala bentuknya tidak akan melebihi kemampuan hamba-Nya. Itu adalah janji-Nya. Ikhtiar, sabar dan tawakkal ‘alallah. Yakinlah bahwa tidak ada tanya yang tidak berjawab dan tak satupun hal di dunia ini terjadi dengan sia-sia. Setiap kisah selalu berhikmah. Semoga buku ini bermanfaat. Oh iya, jangan lupa shalat dan ngaji.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb


Buku dan sepucuk surat itu kutitipkan kepada Cak Koreng kawan karibnya yang berprofesi montir dan tinggal seatap dengan Bang Yon sekaligus menjadi perpisahan, karena dua hari setelah pemberian buku itu aku tidak lagi melayani para penggila kafein.

***

Keintimanku bergaul dengan Robert, Marwan, Bang Yon dan Cak Koreng berawal ketika aku yang mandul dalam mencari kerja membuka warkop yang kunamakan Warkop Santren. Keputusanku mencari rupiah dari warung berakar dari “semprotan” Lek Nang yang prihatin atas luntang-lantungnya hidupku pasca kedua orang tuaku dipungut-Nya. Ya, Lek Nang seakan menjadi perantara-Nya untuk mengentasku dari adh-dhulumat ila an-nur (dari kegelapan menuju cahaya yang benderang). Di sela-sela aktivitas kesehariannya sebagai pengasuh di sebuah panti asuhan, dia berkenan menyempatkan diri mencurahkan perhatian dan waktunya untukku hingga pada saatnya nanti aku bisa berdiri di atas kakiku sendiri.

“Jab. Sudah saatnya kamu harus membangun prinsip hidup, tidak ada waktu untuk bermain-main lagi. Di manapun nanti kamu menghabiskan waktu dan melangsungkan lakon hidupmu, ingatlah, kamu harus bisa menjaga dan menempatkan diri. Sadar dirilah, bahwa dalam hidup itu ada rambu-rambunya. Ingat juga, bahwa dalam setiap pilihan selalu ada resiko, siap atau tidak siap, kamu harus bertanggung jawab. Hidup membutuhkan keberanian. Banyaknya orang-orang yang mengakhiri hidupnya dengan cara tidak wajar karena mereka tidak memiliki keberanian untuk hidup. Terus jangan lupa, segala yang telah kamu capai tidak lepas dari campur tangan-Nya, untuk itu pandai-pandailah bersyukur. Allah berjanji, jika kita pandai bersyukur maka akan diberi tambahan nikmat (la-azidannakum) dan jika kita mengingkari nikmat-Nya, maka inna `adzabi lasyadiid (sesungguhnya siksa-Ku amat pedih). Satu lagi, sholat dan mengajilah. Wis, berangkatlah dengan bismillah..” Begitu pesan-pesan taqwa Lek Nang padaku.

Sepintas, wejangan Lek Nang itu juga mengingatkanku pada petikan nasehat almarhum Bapakku, “Jadilah orang pintar tapi yang benar. Kaya itu tidak terbatas pada harta, tapi lebih kepada hati. Percuma kaya harta tapi hatimu miskin. Terus, ittaqillaha haitsuma kunta wa atbi’is sayyiatal hasanah. Tamhuha wa khaliqin-nas bi khuluqin hasan (Bertaqwalah kepada-Nya di manapun kamu berada. Dan pergaulilah manusia itu dengan akhlak yang baik)”.

Aku jadikan nasehat-nasehat itu sebagai bekal untuk menapaki terjalnya jalan kehidupan. Aku malu terus-menerus menjadi benalu yang kerap menjadi beban dan senantiasa merugikan. Berhenti berarti mati. Aku akan membangun dan memaknai dunia yang sudah kupilih.

Tekad dan pesan-pesan taqwa itu akan terus bergemuruh mengiringi gerilyaku. Satu hal yang tak menyisakan sesal saat aku memutuskan pilihan berjualan kopi adalah dibentangkan-Nya pelangi-pelangi kisah untukku yang dipertemukan dengan “orang-orang pilihan” pasca berhenti dari warkop. Selaksa kisah itu telah meninggalkan jejak tak terhapuskan. Pertemuanku itu pula yang membuatku semakin dewasa dalam melakoni ibadah dan hidup. Kepada mereka, di puncak muhasabah aku bermunajat kepada-Nya semoga mereka kelak termasuk ke dalam rombongan orang-orang yang diberi nikmat dalam jannatun na’im dan bukan orang-orang yang dimurkai. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komunitas Musik Country Girilaja Mojokerto

Logo Komunitas Lembah Pring Jombang

Logo Komunitas Lembah Pring Jombang
Design by: Fahrudin Nasrulloh dan Samsul Nanggalrek